Tampilkan postingan dengan label analis kesehatan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label analis kesehatan. Tampilkan semua postingan

Minggu, 02 Agustus 2015

APA ITU DIFTERI


Difteri
Difteri adalah penyakit saluran pernapasan atas yang ditandai dengan sakit tenggorokan, demam rendah, dan membran putih abu-abu (disebut pseudomembrane pada tonsil, faring, dan / atau rongga hidung. Toksin Difteri. diproduksi oleh C. diphtheriae, dapat menyebabkan miokarditis, polyneuritis, dan efek beracun sistemik lainnya. Penyebaran penyakit melalui kontak fisik langsung atau cairan pernapasan aerosol dari individu yang terinfeksi. Vaksin DPT. terbukti efektif menurunkan insiden penyakit difteri.

Read more

APA ITU Corynebacterium diptheriae


Corynebacterium diptheriae
Corynebacterium diphtheriae merupakan makhluk anaerobik fakultatif dan gram positif, ditandai dengan tidak berkapsul, tidak berspora, dan tak bergerak. Corynebacterium diphtheriae terdiri dari 3 biovar, yaitu gravis, mitis, dan intermedius. Di alam, bakteri ini terdapat dalam saluran pernapasan, dalam luka-luka, pada kulit orang yang terinfeksi, atau orang normal yang membawa bakteri.
                                                                          
Read more

VIBRIO CHOLERA


Kolera merupakan jenis penyakit diare akut yang dalam beberapa jam dapat menyebab dehidrasi progresif yang cepat dan berat, dan bisa berujung pada kematian (kurang dari 1 % hingga 40 %). Kolera gravis, yang merupakan bentuk kolera berat, merupakan penyakit yang lebih menakutkan lagi.
       
       ETIOLOGI Terutama disebabkan oleh Vibrio cholerae strain O1, yang terbagi menjadi biotipe klasik dan El Tor. Setiap biotipe dibagi lagi menjadi serotipe Inaba, Ogawa, dan Hikojima. Bakteri gram negatif ini berbentuk koma dengan ukuran 2-4 um, pada biakan lama dapat menjadi batang lurus, mempunyai satu flagelum polar, dan tidak membentuk spora. Seperti pada spesies Vibrio lainnya, Vibrio cholerae juga bersifat oksidase-positif.

Pada biakan, spesies ini bersifat aerob dan anaerob fakultatif, suhu optimum 37 C (18 – 37 C), pH optimum 8,5 – 9,5, dan tidak tahan asam. Tumbuh baik pada medium alkali khusus, seperti agar Alkaline Taurocholate Tellurite dan agar Triosulfate Citrate Bilesalt Sucrose(TCBS). Meragi sukrosa dan manosa tanpa menghasilkan gas, tetapi tidak meragi arabiosa. Meragi nitrat, sehingga pada medium pepton (banyak mengandung triptofan dan nitrat) akan membentuk indol (tes indol positif). Tes nitroso indol ini dapat dihambat oleh glukosa.
       Identifikasi Vibrio cholerae biotipe El Tor penting untuk tujuan epidemiologi. Sifat-sifat penting yang membedakannya dengan biotipe kolera klasik ialah resistensi terhadap polimiksin B, resistensi terhadap kolerafaga tipe IV (Mukarjee) dan menyebabkan hemolisis pada eritrosit kambing.

       EPIDEMIOLOGI Sejak tahun 1917 dikenal tujuh pandemik yang sampai ke Eropa. Pandemik ke-7 disebabkan olehVibrio cholerae O1 biotipe El Tor yang baru, dimulai tahun 1961. Pertama kali muncul menyebabkan kolera di Sulawesi, Indonesia. Penyakit ini kemudian menyebar cepat ke daerah Asia Timur lainnya, seperti Bangladesh (1963), India (1964), serta Uni Soviet, Iran, dan Irak (1965-1966).
       Pada tahun 1970, kolera menyebar ke Afrika Barat. Penyakit ini bergerak cepat hingga menyerang Amerika pada 1991. Dalam waktu setahun, kolera menyebar ke 11 negara dan secara cepat menlintasi benua. Serogrup lain tidak menyebabkan epidemik. 
       Pada 1992, terjadi ledakan kasus kolera di Bangladesh dan India yang disebabkan oleh serogrup Vibrio choleraeyang belum diidentifikasi (serogrup O139), dikenal pula dengan pandemik ke-8. Isolasi Vibrio ini telah dilaporkan dari 11 negara di Asia Tenggara. Belum ditemukan penyebaran ke daerah lain.

       TRANSMISI Bisa berupa air/makanan yang terkontaminasi tinja atau air yang mengandung Vibrio cholerae, termasuk kerang dari air yang tercemar. Bakteri ini dapat bertahan dalam air selama 3 minggu.

       PATOGENISIS Kolera ditularkan melalui jalur oral. Jika Vibrio berhasil melalu asam lambung dengan selamat (dosis infektif tinggi sekitar 107 jika asam lambung normal), ia akan berkembang pada usus halus. Langkah awal kolera berupa penempelan pada mukosa karena membrane protein terluar dan adhesin flagela yang dimilikinya.
       Vibrio cholerae bersifat non invasif, tetapi menghasilkan enterotoksin, yaitu suatu protein dengan BM 84.000 Dalton, tahan panas dan tidak tahan asam, resisten terhadap tripsin dan dirusak oleh protease. Toksin kolera mengandung 2 subunit, yaitu B (binding) dan A (active). Subunit B berikatan dengan Gm1, suatu reseptor glikolipid pada permukaan sel epitel jejunum, dan kemudian mengirimkan subunit A ke target sitosiliknya. Sub unit A aktif (A1) memindahkan secara ireversibel ribose ADP dari nikotinamid adenin dinukleotida (NAD) ke sebuah guanosin tripospat (GTP) yang mengatur aktivitas adenilat siklase. Hal ini menyebabkan peningkatan produksi cAMP, yang menghambat absorbsi natrium dan dan merangsang sekresi klorida sehingga menimbulkan akumulasi NaCl dalam lumen usus. Sejak air bergerak pasif untuk mempertahankan osmolaritas, cairan isotonic terakumulasi dalam lumen. Ketika volume cairan melebihi kapasitas penyerapan usus, terjadi diare cair, yang terdiri dari air, NaCl, kalium, dan bikarbonat. Jika cairan dan elektrolit yang keluar tidak digantikan secara adekuat, dapat terjadi syok dan asidosis.
       Imunitas terhadap toksik kolera dan antigen permukaan bakteri sama dengan respon imun alami. Proteksi in vivo kemungkinan besar dimediasi oleh IgA sekretorik, sedangkan antibodi serum sebagai tanda untuk pajanan sebelumnya tidak melindungi.

       MANIFESTASI KLINIK Gejala khas berupa diare encer seperti air cucian beras, tidak berbau busuk maupun amis, vormitus setelah diare tanpa nausea, dan kejang otot perut. Gejala klinis sesuai dengan penurunan volume. Pada kehilangan 3 – 5 % dari berat badan normal, timbul rasa haus. Kehilangan 5 – 8 %, timbul hipotensi postural, kelemahan, takikardi, dan penurunan turgor kulit. Penurunan di atas 10 % mengakibatkan oliguria, denyut nadi lemah atau tidak ada, mata cekung dan pada bayi ubun-ubun cekung, kulit keriput, somnolen, dan koma. Komplikasi disebabkan oleh kehilangan air dan elektrolit.
       Penyakit kolera dapat berakhir dengan penyembuhan ad integrum (sehat utuh) atau kematian. Penyulit biasanya adalah keterlambatan pertolongan atau pertolongan yang tidak adekuat.

       DIAGNOSIS Mudah ditentukan pada daerah endemik. Ciri khasnya berupa vormitus tanpa nausea, diare cair seperti iar cucian beras, dan tanpa demam. Untuk pemeriksaan biakan, cara pengambilan bahan pemeriksaan tinja yang tepat adalah apus rektal (rectal swab) yang diawetkan dalam media transfor carry-blair atau pepton alkali, atau langsung ditanam dalam agar TCBS, akan memberikan persentase hasil positif yang tinggi. Vibrio cholerae O1 menghasilkan koloni oksidase-positif berwarna kuning. Vibrio cholerae dapat dibedakan dengan Vibrio mimicus dari kemampuannya meragi sukrosa. Selain itu, untuk pemeriksaan laboratorium juga bisa dilakukan dengan muntahan.


Read more

KANKER USUS




Kanker usus (besar rectum) atau sering disebut kanker kolorektal merupakan salah satu jenis kanker yang terjadi pada jaringan kolon/usus besar atau rektum. Untuk dapat lebih memahami mengenai kanker ini, mari kita pelajari sistem pencernaan manusia normal.
Kanker kolon dan dubur dimulai dalam sistem pencernaan, juga disebut GI (gastrointestinal) sistem.



Sistem pencernaan memproses makanan untuk menghasilkan energi dan bagian terakhir dari system ini (yaitu di kolon/usus besar) menyerap cairan dan membentuk limbah padat (tinja) yang kemudian dikeluarkan dari tubuh.

Setelah makanan dikunyah dan ditelan, makanan berpindah ke perut. Sebagian makanan dipecah ke dalam bagian-bagian kecil untuk dikirim ke usus halus. Usus halus adalah bagian terpanjang dari sistem pencernaan - sekitar 20 meter.

Usus halus juga menguraikan makanan dan menyerap sebagian besar nutrisi. Usus halus berujung pada usus besar yang panjangnya sekitar 5 meter. Usus besar menyerap air dan nutrisi dari makanan dan juga berfungsi sebagai tempat penyimpanan limbah (tinja). Tinja ini selanjutnya bergerak dari usus besar ke dalam anus - 6 inci terakhir dari sistem pencernaan. Dari sana limbah keluar dari tubuh melalui lubang yang disebut anus.

Kanker usus besar dan kanker rektum memiliki banyak kesamaan. Kanker usus berkembang secara perlahan selama bertahun-tahun. Sebagian besar kanker bermula sebagai polip usus. Polip adenoma ini dapat berkembang menjadi kanker. Mengangkat polip sedini mungkin dapat melindungi Anda dari kemungkinan terkena kanker.

Lebih dari 95% dari kanker usus besar dan rektum adalah adenokarsinoma. Kanker ini dimulai pada sel-sel yang melapisi bagian dalam usus besar dan rektum.



Gejala Kanker Usus

Kanker kolorektal biasanya tidak menimbulkan gejala pada stadium awal. Gejala biasanya baru timbul pada stadium lanjut. Gejala-gejala kanker usus, yaitu:

- Tinja berbentuk runcing(seperti pinsil)
- Darah dalam tinja
- Perubahan kebiasaan BAB (diare atau sembelit yang semakin intens).
- Sakit perut
- Sering kelelahan
- penurunan berat badan secara drastis tanpa sebab jelas
Bagaimana Kanker Usus Diketahui

Anda yang berusia 50 tahun keatas ataupun memiliki riwayat keluarga terkena kanker usus, sangat disarankan untuk melakukan SKRINING secara berkala mulai usia 50 tahun untuk deteksi dini kanker usus.

Mengapa ? Karena ketika polip pra-kanker dan kanker usus besar ditemukan dan diobati pada tahap awal, angka kesembuhan mendekati 100 persen. Kolonoskopi umumnya dianggap sebagai skrining dan diagnosa terbaik untuk kanker usus besar.

Beberapa pemeriksaan yang dapat dilakukan adalah:
  • Kolonoskopi: teropong usus besar
  • Guaiac Fecal Occult Blood Test (‘gFOBT): untuk menemukan darah dalam tinja -gejala awal kanker usus, biasanya dilanjutkan dengan kolonoskopi
  • Enema barium: tablet barium dimasukkan ke dalam usus besar melalui anus kemudian dilakukan foto rontgen
  • Digital Rectal Examinations (DRE): colok dubur
  • Test penanda tumor CEA dan CA 19-9, yaitu melalui pengambilan sample darah untuk meneliti adanya peningkatan protein tertentu yang terkait dengan keberadaan kanker usus.
Penyebab Kanker Usus

Penyebab kanker usus hingga saat ini belum diketahui pasti. Namun ada beberapa faktor resiko yang meningkatkan terjadinya kanker usus, antara lain:
  • Usia: golongan orang tua (berusia diatas 50 tahun) lebih beresiko terkena kanker ussu
  • Pola makan minim sayuran dan buah-buahan
  • Obesitas atau penderita diabetes
  • Merokok dan/atau pecandu alkohol
  • Riwayat polip usus atau penyakit usus: orang-orang yang sering mengalami polip usus, penyakit ulcerative colitis ataupun penyakit Crohn, lebih besar resikonya untuk terkena kanker kolorektal
  • Riwayat kanker usus dalam keluarga: Jika Anda memiliki keluarga dekat (orangtua atau saudara kandung) yang menderita kanker ini, risiko Anda mungkin meningkat
Pengobatan Kanker Usus

Empat jenis utama pengobatan untuk kanker kolorektal adalah:
- Pembedahan
- Radioterapi
- Kemoterapi
- Target terapi

Tergantung pada tahap kanker anda, dua atau lebih jenis pengobatan dapat digunakan pada saat yang sama, atau dilakukan satu persatu.

Pembedahan untuk Kanker Usus

Pembedahan biasanya merupakan pengobatan utama untuk kanker usus stadium awal.

Suatu Polipectomi adalah suatu metode yang biasa digunakan oleh dokter (ahli endoskopi) untuk mengangkat polip usus yang dianggap berbahaya (mengarah ke pra-kanker) pada saat dilakukannya kolonoskopi.

Bila sudah menjadi kanker, maka perlu dilakukan tindakan operasi yang disebut kolektomi atau reseksi segmental. Biasanya dokter akan mengangkat bagian usus yang terkena kanker (termasuk node getah bening didekatnya), dan kemudian menyambungkan kembali bagian usus yang tersisa.

Pada operasi ini, dokter mungkin menganggap perlu untuk membuat lumbang pembuangan tinja sementara (ostomi) di pinggang pasien untuk memberikan waktu ususnya sembuh.

Suatu bedah laparoskopi kolostomi (lihat gambar dibawah)- menggunakan tehnik yang lebih canggih yang tidak memerlukan sayatan panjang seperti pada operasi pembedahan biasa (open surgery). Beberapa manfaat dari metode ini adalah rasa sakit sesudah operasi jauh lebih berkurang dan pasien tidak perlu rawat inap terlalu lama di RS.




Untuk jenis kanker dubur (rectum) stadium awal, dokter bisa melakukan pembedahan seperti eksisi local dan reseksi trans-anal local, dengan alat ditempatkan ke dalam anus, tanpa harus membuat sayatan pada kulit.

Pada kasus kanker usus dan kanker rectum tahap II dan III, mungkin memerlukan penanganan/pembedahan yang lebih serius, dengan salah satu metode ini:
  • Reseksi Low Anterior: Metode ini dilakukan bila posisi kanker terletak diatas rectum dekat dengan perbatasan usus besar. Dokter bedah perlu membuat sayatan terbuka pada perut untuk mengangkat bagian yang terkena kanker (beserta kelenjar getah bening terinfeksi), tanpa mempengaruhi Anus. Pada metode ini, pasien masih dapat BAB seperti biasa (melalui anus).
  • Proctectomy dengan colo-anal anastomotosis: Bila letak kanker diantara bagian tengah dan 2/3 bawah dubur, maka seluruh rektum dan usus besar yang melekat pada anus perlu diangkat. Ini disebut anastomosis colo-anal (anastomosis berarti koneksi). Ini adalah operasi yang sulit untuk dilakukan. Untuk itu dokter akan membuat kantong pembuangan tinja sementara (ostomi) hingga ususnya sembuh. Operasi kedua diperlukan kemudian untuk menutup pembukaan ostomi.
  • Reseksi Abdominoperineal (AP): bila kankernya berada pada bagian bawah rectum dekat dengan anus, maka ahli bedah perlu mengangkat juga anusnya. Akibatnya sebuah lubang pembuangan tinja (ostomi) permanent perlu dibuat untuk mengeluarkan tinja/kotoran dari tubuh pasien selanjutnya
  • Eksenterasi panggul: Jika kanker rektum sudah menyebar ke organ terdekat, maka diperlukan suatu pembedahan radikal, yang mungkin melibatkan pengangkatan usus besar, anus ataupun kandung kemih/prostate/rahim yang terinfeksi. Suatu ostomi diperlukan untuk pembuangan tinja permanent. Jika kandung kemih diangkat, sebuah urostomy (pembuka untuk buangan air seni) juga diperlukan.
Efek samping Pembedahan.

Efek samping dari operasi tergantung pada banyak hal, seperti tingkat operasi dan kesehatan umum seseorang sebelum operasi. Rasa sakit sesudah operasi, umum dirasakan. Efek lain yang mungkin timbul antara lain: pendarahan, pembekuan darah di kaki, dan kerusakan organ terdekat selama operasi.

Pada kasus yang jarang terjadi, sambungan usus bisa bocor dan menyebabkan infeksi. Selain itu setelah operasi, kemungkinan bisa timbul jaringan parut pada bagian kulit yang dioperasi.

Pembuatan ostomi ataupun urostomi juga kadang bisa menimbulkan rasa ganjil dan stress bagi pasien pada tahap awal. Untuk itu, diperlukan bimbingan dari paramedic Anda agar Anda bisa terbiasa menjalani kebiasaan BAB maupun berkemih yang baru.

Pembedahan juga bisa berdampak pada kehidupan seksual Anda. Beberapa efek samping yang mungkin timbul antara lain, tidak keluarnya air mani saat orgasme, gangguan ereksi pada pria, serta rasa sakit dan menurunnya gairah seksual pada wanita.

Radioterapi untuk Kanker Usus

Radioterapi dalam mengobati kanker usus terutama digunakan ketika sel-sel kankernya sudah menempel ke organ dalam atau ke lapisan dalam perut (abdomen). Dalam hal ini radioterapi digunakan setelah operasi pengangkatan untuk memastikan seluruh sel-sel kanker yang tersisa mati. Radiasi jarang digunakan untuk mengobati kanker usus besar yang telah menyebar (metastasis).

Untuk kanker rektum, radiasi sering diberikan baik sebelum atau setelah operasi untuk membantu mencegah kankernya kambuh.

Sebuah tehnik khusus radioterapi dapat dilakukan pada kasus kanker dubur dengan tumor kecil. Tehnik radio-surgery terapi ini memungkinkan pengangkatan tumor, tanpa perlu melakukan operasi pembedahan terbuka.

Brachytherapy (terapi radiasi internal): Dalam metode ini, pelet kecil atau biji bahan radioaktif ditempatkan langsung ke kankernya dalam jangka pendek dengan tujuan mematikan kankernya tanpa merusak jaringan sehat disekitarnya. Metode ini dilakukan untuk orang-orang yang karena satu dan lain hal tidak dapat menjalani operasi.

Kemoterapi untuk Kanker Usus

Kemoterapi (kemoterapi) melibatkan penggunaan obat-obatan melalui infus ke dalam aliran darah ataupun tablet minum untuk mematikan sel-sel kankernya. Kemo kadang digunakan sebelum operasi untuk mengecilkan kankernya, atau pada kasus kanker usus yang telah bermetastasis ke hati.

Target Terapi untuk Kanker Usus

Target terapi, kadang disebut sebagai smart drugs, yaitu hanya memfokuskan diri untuk mematikan sel-sel kankernya, sehingga tidak mengganggu sel-sel normal lainnya.

Contoh obat-obatan target terapi untuk kanker usus, adalah: bevacizumab (Avastin ®), panitumumab (vectibix), dan cetuximab (Erbitux). Obat ini merupakan antibodi monoclonal buatan (versi manusia) untuk menyerang kanker pada akar molekulnya.

Target terapi biasanya dilakukan bersamaan dengan kemoterapi untuk meningkatkan peluang keberhasilan pengobatan.
Tahapan Perkembangan Kanker Usus
  • Stadium 0 merupakan tahap ditemukannya sel-sel kanker hanya pada lapisan terdalam kolon atau rektum.
  • Stadium I merupakan tahapan dimana sel-sel kanker telah tumbuh ke dinding dalam kolon atau rektum, tetapi tapi belum tembus keluar.
  • Stadium II merupakan tahapan kanker yang mungkin telah menyerang jaringan di sekitarnya, tetapi belum menyebar ke kelenjar getah bening.
  • Stadium III merupakan tahapan dimana kanker telah menyebar ke kelenjar getah bening di sekitarnya, tetapi belum menyebar ke bagian tubuh yang lain.
  • Stadium IV merupakan tahapan kanker yang telah menyebar ke bagian tubuh yang lain, misalnya hati atau paru-paru.
Pencegahan Kanker Usus

Tindakan terbaik yang dapat dilakukan untuk mencegah kanker usus adalah dengan rajin mengkonsumsi serat (biji-bijian, buah-buahan dan sayuran).Hindari makanan yang berbahan pewarna, pengawet, alcohol dan rokok. Banyak minum air putih dan hindari stress.

Selain itu penting bagi Anda yang berusia diatas 50 tahun untuk rajin melakukan skrining kanker usus melalui teropong usus (Kolonoskopi) sebagai bagian dari periodic check up Anda.

Anda juga dapat meminum supplemen vitamin dan herbal, seperti Typhonium Plus® untuk meningkatkan daya tahan Anda.
Read more

Mengenai pankreas.


Pankreas adalah organ pada sistem pencernaan yang memiliki dua fungsi utama: menghasilkan enzim pencernaan serta beberapa hormon penting seperti insulin. Pankreas terletak pada bagian posterior perut dan berhubungan erat dengan duodenum (usus dua belas jari).
Pankreas menghasilkan getah pankreas yang mengandung enzim amilase, tripsin,dan lipase.
- Amilase berfungsi untuk menguraikan zat tepung (amilum) menjadi gula( multosa)
- Tripsin menguraikan protein menjadi asam amino.
- Lipase mengubah lemak menjadi asam lemak dan gliserol.
Pada permukaan usus halus dipenuhi jonjot – jonjot usus dan vili yang berfungsi untuk memperluas bidang penyerapan sehingga kemampuan menyerap makanan lebih besar.

Read more

Pengertian Empedu


Empedu adalah cairan bersifat basa yang pahit dan berwarna hijau kekuningan, yang disekresikan oleh hepatosit hati pada sebagian besar vertebrata. Pada beberapa spesies, empedu disimpan di kantung empedu dan dilepaskan ke usus dua belas jari untuk membantu proses pencernaan.
Empedu dihasilkan oleh hati. Garam empedu yang dihasilkannya mencegah agregat lemak hingga memperbesar luas permukaannya. Bentuk micelles (agregat dari asam lemak,kolesterol,dan monogliresida ) yang dihasilkannya membuat lemak dapat larut dalam air. Hal ini penting dalam mempercepat proses pemecahan lemak oleh empedu membuat sekresi,ekskresidan reabsorpsi empedu menjadi bahan yang menarik untuk di bahas di dalam artikel kedokteran ini. Hati dan kantung empedu merupakan dua bagian yang tak terpisahkan saat kita membahas tentang empedu.
  1. Bagian – Bagian Empedu
Empedu terdiri dari :
-          Garam – garam empedu
-          Elektrolit
-          Pigmen empedu
-          Kolesterol
-          Lemak
  1. Fungsi Empedu
Fungsi empedu adalah untuk membuang limbah tubuh tertentu (terutama pigmen hasil pemecahan sel darah dan kelebihan kolesterol) serta membantu penyerapan lemak.
Read more

Mengenai usus.


Usus adalah bagian dari sistem pencernaan yang bermula dari lambung hingga anus. Pada manusia dan mamalia lain, usus terdiri dari dua bagian: usus kecil dan usus besar (kolon). Pada manusia, usus kecil terbagi lagi menjadi duodenum, jejunum, dan ileum, sedangkan usus besar terbagi menjadi cecum, kolon, dan rektum.
1. Usus besar
Usus besar atau kolon dalam anatomi adalah bagian usus antara usus buntu dan rektum. Fungsi utama organ ini adalah menyerap air dari feses. Pada mamalia, kolon terdiri dari kolon menanjak (ascending), kolon melintang (transverse), kolon menurun (descending), kolon sigmoid, dan rektum. Bagian kolon dari usus buntu hingga pertengahan kolon melintang sering disebut dengan “kolon kanan”, sedangkan bagian sisanya sering disebut dengan “kolon kiri”.

2. Usus halus
Usus halus atau usus kecil adalah bagian dari saluran pencernaan yang terletak di antara lambung dan usus besar. Usus halus terdiri dari tiga bagian yaitu usus dua belas jari (duodenum), usus kosong (jejunum), dan usus penyerapan (ileum). Pada usus dua belas jari terdapat dua muara saluran yaitu dari pankreas dan kantung empedu.

3. Usus dua belas jari
Usus dua belas jari atau duodenum adalah bagian dari usus halus yang terletak setelah lambung dan menghubungkannya ke usus kosong (jejunum). Bagian usus dua belas jari merupakan bagian terpendek dari usus halus, dimulai dari bulbo duodenale dan berakhir di ligamentum Treitz. Usus dua belas jari merupakan organ retroperitoneal, yang tidak terbungkus seluruhnya oleh selaput peritoneum. pH usus dua belas jari yang normal berkisar pada derajat sembilan.
Fungsi Usus dua belas jari bertanggung jawab untuk menyalurkan makanan ke usus halus. Secara histologis, terdapat kelenjar Brunner yang menghasilkan lendir. Dinding usus dua belas jari tersusun atas lapisan-lapisan sel yang sangat tipis yang membentuk mukosa otot.




Read more